07

Hitam putih Orche

Sampurasun,

Karya adalah semburat fajar
Yang dengungnya seperti cahaya
Menembus prisma
Menjadi spektrum suara

Bunyian inilah marka budaya
Pengikat setiap aku, kamu, kita dan dia
Tarian lagu laksana asap dupa naga
Bergerak, meloncat, meliuk di angkasa

Ini bunyi, tari dan suara kita
Bukan cuma perih tangis atau gelak tawa
Namun poros rasa dari seluruh jiwa-jiwa
Yang tak terpisah waktu dan ruang antara

Melangkah, berjalan dan berlari
Kadang bersama, kadang sendiri
Bercanda, bernyanyi lalu menari-nari
Sejak matahari terbenam, sampai pagi

Ra Hayu Sagung Dumadi.
(Leo Kristi, karya yang tak pernah mati)
Karatuan Bintaro, ditemani menyan dan merah-merah
Memikirkan rasa kagum untuk LKers yang luar biasa
dan tokoh yang memang bukan seniman biasa
27 Juni 2014.

Trie ‘iie’ Utami

Trie Utami Sari, biasa dipanggil Iie, (lahir di Bandung, Jawa Barat, 8 Januari 1968; umur 46 tahun) adalah penyanyi dan pencipta lagu Indonesia berdarah Sunda dan Jawa. Trie adalah anak dari pasangan Kolonel (Purn.) H. Soedjono Atmotenojo dan Hj. Soejarni Oesoep. Trie merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara

Biografi

Masa Kecil

Iie mengenal musik sejak kecil. Rumah mereka selalu dipenuhi suara Pat Boone, Glen Muller, Perry Como, serta berbagai lagu klasik yang diputar lewat piringan hitam. Sejak tahun 1972-1986, bersama kedua kakanya, Purwa Tjaraka dan Thea Ika Ratna, Iie berlatih piano. Pengajar pianonya adalah Alfons Becalel (orang Hongaria) dan Rhinno serta Linda dari YPPM (Yayasan Pusat Pendidikan Musik) Bandung. Iie juga mengukuti pendidikan musik di Bina Mustika Bandung tahun 1978.

Sejak TK, Iie sangat suka menyanyi. Iie pun jadi rajin menonton acara Bintang Kecil di TVRI yang diasuh oleh Bu Kasur, Ibu Sud, dan A.T. Mahmud. Iie juga sering mengikuti lomba menyanyi. Pertama kali Iie muncul di televisi adalah saat mengikuti kompetisi menyanyi untuk anak SD dalam acara Ayo Menyanyi di TVRI tahun 1977. Beberapa tahun kemudian, Iie menjadi juara kedua saat mengikuti lomba menyanyi lagu-lagu perjuangan di Bandung. Sejak itu, Iie jadi sering menjadi bintang tamu untuk menyanyi di TVRI Jakarta.

Saat SMA, Iie mulai mendampingi kakaknya Purwa Tjaraka menyanyi secara rutin, bergantian dengan Thea, di sebuah restoran di Bandung. Selain itu, Iie juga menjadi penyiar di Radio Dee-Day kemudian di Radio OZ 103 FM di Bandung dan lead vocalist band Kahitna.

Lulus SMA Iie ingin melanjutkan sekolah musik di Amerika. Sayang keluarganya tidak mampu membiayai. Berbeda dengan kedua kakaknya yang berhasil meraih gelar kesarjanaan, Iie memilih tidak melanjutkan sekolah. Iie kemudian semakin memperdalam kemampuan bermusiknya dengan mempelajari keyboard,saksofon, dan berlatih membuat aransemen lagu di kelompok drum band GWDC (Genta Winaya Drum Corps)Bandung.

Karier

Awal karier profesional Iie adalah saat dia ‘dilamar’ oleh Krakatau, grup band beraliran jazz yang sangat masyhur saat itu.Bersama Krakatau, Iie membuat album pertamanya tahun 1986 bertajuk First Album. Meskipun demikian, nama Iie mulai dikenal saat menjadi pemenang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors (1987) membawakan lagu “Keraguan”, karya Edwin Saladin dan Adelansyah. Iie juga berhasil menjuarai Festival Penyanyi Lagu Populer Indonesia, tahun 1989.

Selain mengikuti lomba di dalam negeri, Iie pun menjajal ajang lomba di luar negeri. Diantaranya, runner up dalam ABU (Asia Pasific Broadcasting Union) Golden Kite World Song Festival di Kuala Lumpur tahun 1990 dan Grand Prix Winner di ajang The Golden Stag International Singing Contest di Brasov, Rumania (1992). Ia juga dinobatkan sebagai pemenang dalam ABU International Anthem di Bangkok (2000), serta terpilih sebagai Penyanyi Jazz Wanita Terbaik versi News Music pada tahun yang sama.

Sejumlah Iie yang sempat menjadi hit, antara lain “Kau Datang”, “Untuk Ayah dan Ibu” (ciptaannya sendiri), serta “Nurlela 1″ dan “Nurlela 2″. Yang terakhir ini dinyanyikannya berempat bareng Vina Panduwinata, Atiek CB, dan Malyda, yang tergabung dalam kelompok Rumpies.

Iie juga menyanyi untuk soundtrack sejumlah film dan sinetron, antara lain “Elegi Buat Nana” (1988), “Perisai Kasih yang Terkoyak” dan “Kembang Ilalang” pada tahun 2003. Selain menyanyi, Iie pun menciptakan lagu. Telah puluhan lagu diciptakannya, baik untuk dinyanyikan dirinya sendiri, maupun di nyanyikan oleh orang lain. Salah satu lagu ciptaannya yang terkenal adalah Jadilah Bintang (bersama Purwa Tjaraka) yang menjadi theme song Kontes Dangdut Indonesia (KDI).

Trie Utami pun semakin dikenal oleh publik mengenai kehadirannya sebagai juri di Akademi Fantasi Indosiar yang meraih popularitas cukup besar pada tahun 2004-2006 serta dijuluki Miss Pitch Control. Kini, ia masih menjadi juri di AFI 2013.

Penghargaan

Tahun Penghargaan
1986 Indonesian Best Vocalist – Yamaha Light Music Contest
1988 BASF AWARD Winner -The Best Selling Album – Rhtyhm and Blues Cathegory
1989 The Best Performer – Indonesian Popular Song Festival
1990 2nd Runner Up Best Performer – ABU Golden Kite World Song Festival Kuala Lumpur Malaysia
The Indonesian LUX’s Star (Bintang LUX)
1990’s Best Performer on TV – from Monitor Magazine
BASF AWARD Winner – The Best Selling Album – Pop Cathegory (with RUMPIES)
Indonesian Most Dedicated and Creative Singer – presented by RADIO OZ
1991 Indonesian Best Female Singer – from CITRA Magazine
1992 GRAND PRIX WINNER – Cerbul de Aur – The Golden Stag International Singing Contest – Brasov – Romania
1997 Indonesian Legendary Musician and Singer – presented by HARD ROCK FM RADIO
2000 The Winner of The Song Contest for ABU International Anthem (Asia Pacific Broad Casting Union) in Bangkok – Thailand
THE INDONESIAN BEST JAZZ FEMALE SINGER – presented by News Music

Diskografi

Album Studio

Album mini

Penampilan Lain

No comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>