Leo Kristi: Narasi Ironis Bangsa

Kris Budiman

DEKLARASI LEO KRISTI

Gagasan kebangsaan terus-menerus dibisikkan, bahkan diteriakkan, oleh Leo Kristi di sepanjang karier kesenimanannya sepanjang empat dekade. Gagasan macam apakah itu yang selama ini telah dilantangkan oleh Leo Kristi? Tentu Leo bukan seorang orator, bukan pula seorang ideolog, yang memaku konsep ini ke dalam barisan jargon dan kesadaran semu. Dia adalah seorang penyanyi pengelana, seorang seniman yang memiliki mata manah (mind’s eye), bila hendak mengutip metafora Homi K. Bhabha (1990). Bhabha mencurigai bahwa gagasan tentang bangsa telah kehilangan sangkan-parannya ditelan oleh mitos-mitos waktu. Oleh karena itu, sebagaimana ditawarkan lewat pandangan seorang Leo Kristi, hanya mata manah inilah yang mampu merealisasikan horison bangsa.

Mungkin agak berbeda dengan para intelektual kritis lainnya, Leo tampak lebih suka menyodorkan gagasan-gagasan tentang bangsa di dalam warna-warna yang kontras dan penuh paradoks. Seakan-akan dia menggaungkan lagi ungkapan Hannah Arendt (1958) yang berpikir bahwa masyarakat bangsa di dalam dunia modern adalah sebuah “jagad hibrida yang aneh dan semakin tak pasti”. Kontras dan paradoks, seperti kita tahu, merupakan landasan terpenting bagi struktur ironi.

Leo Kristi menjelajah mulai dari lapisan terbawah masyarakat bangsa ini, pada ironi yang menimpa kehidupan sehari-hari orang biasa dan kaum jelata. Lagu yang paling gamblang menarasikannya adalah “Salam dari Desa” (Nyanyian Tanah Merdeka, 1977). Di sana orang-orang desa terdengar sedang bergembira-ria lantaran panen sudah tiba. Mereka bernyanyi dan menyampaikan salam kepada saudara-saudaranya yang tinggal di kota: Kalau ke kota esok pagi / Sampaikan salam rinduku / Katakan padanya / Padi-padi telah kembang / Ani-ani seluas padang / Roda giling berputar-putar siang malam. Namun demikian, inilah ironinya, hasil panen tersebut ternyata bukan mereka punya!

Bahkan bagi mereka kerja-keras siang-malam hingga berpeluh-keluh mungkin cuma cukup untuk menyambung hidup satu hari saja, sementara masa depan masih panjang dan tak pasti: Terkantuk-kantuk belakang dayung / Aku tak pernah tidur / Dengan setumpuk ikan di perahu / Mungkin cukup sehari hidup / Sayur asam kacang panjang / Hari esok akan panjang / Sayur asam kacang panjang / Hari esok cahaya terang / Biduk mengambang. Lagu “Sayur Asam Kacang Panjang” (Nyanyian Tambur Jalan, 1979) ini dengan lugu menyodorkan sayur asam dan kacang panjang sebagai dua buah metafora yg ironis.

Problem kemelaratan bangsa yang ironis juga menimpa warga urban, termasuk anak-anak jalanan dan gelandangan. Simak saja paradoks yang begitu tajam di antara si anak melarat yang terpaksa mencuri nasi karena kelaparan dan si anak manja yang menghambur-hamburkan kue coklatnya dengan sia-sia: Riuh di terminal bus malam / Seorang gadis gelandangan / Menangis tersedu di sudut / Gagal mencuri nasi / Sedang di belakangku / Seorang bocah merengek-rengek / Sambil melemparkan kue coklat / Ke segala sudut (“Hati Muda Ley Ley”, Nyanyian Malam, 1976).

Pada lagu “Lewat Kiara Condong” (Nyanyian Tanah Merdeka, 1977), Leo Kristi rupanya tidak bisa mengelakkan diri dari suasana yang romantik. Dari balik jendela kereta, aku-lirik menyaksikan bocah-bocah bergerombol dan berlari-lari di sepanjang tepi rel, seorang gadis mandi dan berkeramas di balik dinding bambu, tetapi nun jauh di sana hadir sebuah kontras tajam, yakni para bos dan pejabat yang hidup nyaman dengan kesejukan rumah-rumah mewah di pegunungan: Ketika lewat Kiara Condong / Matahari tidur di balik gunung / Ketika lewat Kiara Condong / Tuan-tuan tidur di sejuk gunung.

Kontras yang tak kalah tajam disodorkan oleh Leo Kristi di dalam lagunya yang lain, “Memorial Sudirman” (Nyanyian Malam, 1976). Nasib seorang bocah gelandangan dengan serangkaian paradoks, mulai dari orang-orang kaya yang melintas sampai dengan senyum pahit di sekitarnya: Sedan-sedan lewat / Tak ganggu nyenyak tidurmu // Keroncong kecil di tanganmu / Hati besar di senyummu / Senyum pahit di kelilingmu / Senyum manis di hatimu). Toh seorang Sudirman hadir menemani bocah ini –bukan dengan atributnya sebagai seorang panglima besar, melainkan tak lebih dari seorang ayah yang lembut dan penuh kasih terhadap anaknya.

Pada lapisan teratas masyarakat bangsa ini, para pemimpin politik dan militer – sebagaimana kita saksikan di media dalam bulan-bulan belakangan– secara ironis justru saling “menjerat” dan “menodong”, alih-alih menunaikan kewajiban yang telah dipercayakan oleh rakyat kepada mereka: Jerat-menjerat dalam lingkaran / Komedi badut-badut / Di mana diri seorang pemimpin? / Di mana diri seorang pemimpin? // … // Todong-menodong dalam lingkaran / Komedi badut-badut / Di mana diri seorang satria? / Di mana diri seorang satria? (“Nyanyian Tambur Jalan, Komedi Badut Pasar Malam”, Nyanyian Tambur Jalan, 1979).

Juga tindak kekerasan fisik oleh polisi terhadap para mahasiswa dan aktivis yang berdemonstrasi masih saja berlangsung, tiada beda dengan zaman regim sebelumnya. Satpol PP menjadi perpanjangan tangan aparatus kekuasaan yang represif, seperti tampak gamblang pada banyak kasus penggusuran, termasuk peristiwa berdarah Mbah Priok belum lama ini. Sepatu-sepatu larsa / Sepatu-sepatu larsa / Di negara yang merdeka // Sepatu-sepatu larsa / Sepatu-sepatu larsa / Klebat kilat di pinggang, begitulah ironi militerisme di negara yang (katanya sudah) merdeka ini dinyanyikan oleh Leo Kristi dalam “Walsa Aria” (Lintasan Hijau Hitam, 1983).

Bangsa dan, dengan demikian, nasionalisme memang merupakan suatu entitas abstrak yang hanya mungkin bereksistensi apabila kita mau/mampu mengimajinasikannya. Dalam pengertian inilah sesungguhnya Benedict Anderson (1991) berbicara tentang bangsa sebagai komunitas yang diimajinasikan (imagined community). Artinya, apa yang disebut sebagai bangsa sesungguhnya tidak dapat diamati secara langsung kehadirannya. Kita hanya bisa berjumpa dengan bangsa sebagaimana ia ditulis (the nation as it is written), kata Anderson.

Oleh karena itu, dia pun sangat menekankan agar pembacaan atas ruang dan waktu bangsa dilakukan melalui produk-produk budaya naratif yang mewujudkannya. Syair-syair lagu Leo Kristi di atas kiranya sudah dan akan terus mengisahkan (kembali) gagasan-gagasan yang selama ini menandai makna bangsa. Sebab, seperti dikatakan juga oleh Edward Said (1986), persoalan bangsa dan ke-bangsa-an ini akan terus hadir untuk mengingatkan kita selalu: Bilakah kita (tidak lagi) menjadi “bangsa”? Atau, apakah kita masih berada di dalam proses menjadi satu (bangsa)?

Kris Budiman, kritikus sastra dan dosen kajian budaya dan media.

No comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>