Engkau masuk ke dalam hidupku di saat yang rawan,” tulis Rendra dalam sebuah sajaknya. Begitu pula kiranya yang hendak saya katakan kepada Leo Kristi. Dia masuk ke dalam hidup saya di saat yang rawan—sebuah periode yang biasa saya sebut sebagai fase formatif bagi pembentukan selera estetik personal, yakni ketika saya masih berusia belasan awal dan baru mulai menjajaki pilihan-pilihan selera dalam menikmati kesenian. Masih saya ingat bagaimana “perjuangan” saya menyisihkan uang jajan harian sekeping demi sekeping demi mendapatkan kaset-kaset LK. Albumnya yang sanggup saya miliki pertama kali adalah Nyanyian Tanah Merdeka (1977) yang salah satu lagunya, “Gulagalugu Suara Nelayan,” berhasil mendaki anak tangga lagu-lagu popular pada waktu itu. Sepertinya inilah satu-satunya lagu LK yang relatif dikenal luas oleh masyarakat, di samping “Catur Paramita” (1993) yang sempat muncul dalam peringkat lagu-lagu popular berbarengan dengan sebuah klip videonya di televisi, meskipun barangkali kurang “meledak.”

Apabila dikalkulasi, tidak kurang dari sepuluh album telah dihasilkan oleh LK di sepanjang karier bermusiknya yang mencapai rentang waktu empat dekade, terhitung sejak Nyanyian Fajar (1975) sampai dengan Warm, Fresh and Healthy (2010). Dari sekian album itu lebih dari seratusan lagu telah diciptakannya. Tak pelak lagi, setidaknya bagi saya dan para pencintanya, LK bukanlah sekadar musisi legendaris, melainkan juga seorang seniman yang karya-karya musiknya telah secara signifikan ikut memberi ritme bagi daur-hidup kami. Lagu-lagu LK telah menjadi semacam soundtrack yang paling panjang dan awet bagi perjalanan kehidupan kami. Saya berharap agar pernyataan terakhir ini tidak dipahami sebagai sebuah hiperbola. Sebab, setidak-tidaknya, saat ini kita bisa membuktikan sekali lagi melalui sebuah album terbarunya, Hitam Putih Orche (2014).

Kecuali lagu “Get the Place!” yang mungkin dapat merepresentasikan kecenderungan terakhirnya, di dalam album ini terpilih sebelas lagu LK lain yang sudah tergolong “klasik” di telinga para pencintanya. Yang menarik, aransemen baru yang berupa orkestra oleh Singgih Sanjaya di album ini bukanlah semata-mata sebuah kemasan, bukan sekadar bungkus, melainkan lebih dari itu: suatu penjelajahan makna-makna musikal yang kaya raya. Bisa kita simak, taruhlah, kutipan-kutipan intertekstual yang kuat ke dalam khasanah musik etnik Nusantara seperti “Jali-jali” yang ber-genre gambang kromong di dalam lagu “Oh, Jakarta” yang masih dilengkapi pula dengan lintasan semacam tanjidor yang khas Betawi; “Ole Olang” dari Madura yang menyatu di dalam lagu “Gulagalugu Suara Nelayan”; serta pemanfaatan instrumen musik etnik lain seperti tabla (sejenis instrumen tabuh) dari anak benua India, gamelan Bali dalam lagu “Tembang Diahati”, dan sapeq (sejenis instrumen dawai) dari Dayak Kenyah Kalimantan dalam “Biru Emas Bintang Tani.”

Bulan Separuh Bayang” menyisipkan paduan suara kanak-kanak sebagai suara-latar yang melemparkan imajinasi auditoris kita ke dalam suasana pedesaan di malam hari, ketika sekumpulan anak menyanyikan tembang dolanan sambil bermandikan cahaya bulan yang perlahan-lahan mulai tertutup awan; sementara di dalam “Salam dari Desa” tetabuhan lesung telah berubah menjadi serangkaian indeks penghadir citraan visual yang mewakili suasana pedesaan, meskipun pada gilirannya ia menjadi ironis ketika kita menangkap sepotong larik yang berfungsi sebagai matriks bagi keseluruhan makna syair: … tapi bukan kami punya. Citraan atau daya bayang visual yang kuat juga dapat disimak di dalam lagu “Kereta Laju” dengan komposisi bunyi yang bukan hanya melukiskan kesendirian di sela-sela deru roda berlari, melainkan juga secara ikonik menghadirkan gemeretak benturan-benturan gerbong kereta api yang melaju di deretan rel-rel. Ikonisitas bunyi ini secara sangat leluasa dihadirkan di dalam “Gulagalugu Suara Nelayan” dengan ritme yang mengalun (kadang naik kadang turun), menghempas-hempas, mewakili tabiat gelombang; pun perahu nelayan yang tengah dimainkan oleh ombak serta hempasan ombak berbuih di tubuh perahu.

Selebihnya, sudah tentu masih ada sekian aspek lain yang dapat dikedepankan, entah itu menyangkut pemaknaan atas syair-syair LK, evolusi musikalnya, bahkan perilaku audiens dan kepenggemaran (fandom) para LKers yang unik. Musik dan lirik-lirik lagu LK sendiri, andai dikembalikan ke dalam konteks hitam-putih kisah personal sebagai seorang audiens, pun pernah menandai sebuah konversi orientasi hidup saya. Akan tetapi, mengenai sudut-sudut biografis yang bertautan dengan ranah musikal ini saya hanya ingin diam membisu; mencoba untuk membebaskan diri dari kata dan semata-mata menikmati, pinjam frasa Roland Barthes (1985), bulir-bulir suara (the grain of the voice) sebagaimana telah digulirkan LK sejak hampir empat puluh tahun lalu.

Kris Budiman, kritikus sastra dan dosen kajian budaya dan media.

No comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>